Category Archives: supervision

Evaluating Schools: Recreation Areas >>> Mengevaluasikan Sekolah – Tempat Bermain/Lapangan Sekolah

Standard

    Every school from nursery to university needs an area for students  to play and unwind.  Recreation (eg:  games, activities, exercise, sports) plays an important role in developing social, physical and emotional skills, improving hand-eye coordination (gross and fine motor skills) and it gives the brain time to absorb and deal with new information learned.  Additionally, different physical activities actually stimulate specific parts of the brain and, thus, helps keep those areas active and healthy.  Thus, it is important to evaluate the play area of a prospective school.  There are 5 things you should look at: size, usage, safety, rules, and supervision.

>>>Setiap sekolah dari PAUD sampai universitas memerlukan daerah bermain dan menyantai buat para muridnya. Rekreasi (contoh: permainan, aktivitas, pelatihan fisik dan olah raga) merupakan kegiatan penting untuk perkembangan kemampuan sosial, fisik dan renjana, meningkatkan koordinasi diantara tangan dan mata (motorik kasar dan halus) dan itu juga memberikan waktu kepada otak untuk menyerap dan memproses informasi yang baru dipelajari.  Ditambah denga, aktifitas fisik macam2 dapat menstimulasikan beberapa daerah otak dan itu berarti daerah2 tersebut tetap aktif dan sehat.  Demikian, pentinglah mengevaluasikan taman bermain setiap calon sekolah.   Ada 5 hal yang harus kamu melihat:  luasnya, pemakaiannya, peraturan dan pengawasan.

 

    For the very young, a sleeping area or nap time is critical because sleeping after learning has been shown  to help toddlers to process what they learned about, and I suspect that it also plays a role for primary students and, certainly, when your brain and body feel tired from learning a lot of new things, you need sleep, prayer or meditation to recharge yourself.

>>>Untuk anak2 yang balita, tempat tidur atau waktu tidur sangatlah penting karena tidur habis belajar telah dibuktikan membantu balita memproses apa yang baru dipelajari, dan saya merasa bahwa itu juga berguna untuk murid di SD dan, jelas, ketika otak dan badanmu lelah karena belajar banyak hal2 baru, kamu perlu tidur, berdoa atau semadi agar kamu jadi segar lagi.

 

    One of the most important considerations is the size of the recreation area.  While a small area that has been well-designed to make maximum use of space can be good, especially a multi-leveled play gym for pre-primary or primary, children need space for many of the games they play, whether it is tag, hide and seek or dodgeball, and for sports like soccer, baseball dan basketball.

>>>Salah satu pertimbangan yang sangat penting adalah luasnya tempat bermain.  Walaupun tempat bermain yang kecil tapi direncanakan untuk memakai tempatnya secara maksimal, terutama kalau ada ruang bermain yang bertingkat untuk pra-SD atau SD, anak2 membutuhkan tempat yang luas untuk kebanyakan permainan, baik kejar2an, petak umpet ataupun elak bola, dan untuk olah raga seperti sepak bola, bisbol dan basket.

 

    A multi-leveled gym with lots of tunnels, climbing apparatus, slides and more can provide an excellent place for children to exert their bodies and imaginations, and the close quarters provides a natural breeding ground for the development of relationships – with some supervision.  Let’s be honest – as an adult, haven’t you ever felt like you wished they made them for us adults, too?

>>>Tempat bermain yang bertingkat dengan banyak  terowongan, alat2 memanjat, rosotan2 dan lain2 merupakan tempat yang istimewa untuk anak2 agar mereka dapat melatihkan motorik dan imaginasi, dan kesempitannya dapat mendorong perkembangan  sosial dan hubungan antar murid – dengan ada pengawasan.  Ayo kita jujur – sebagai seorang dewasa, bukankah kamu pernah ingin ada tempat seperti itu untuk kita juga?

 

    Yet, such a place is costly to buy or make as well as install, and requires daily (or more often) clean-ups as small children are liable to have “accidents” often.  They have to be well-made in order to minimize risk factors such as bumped noggins, cuts and scrapes – or worse!  This means that most schools just cannot afford them.

>>>Namun, tempat seperti itu biasanya mahal kalau ingin beli atau bikin apalagi menginstalasikannya, dan wajib dibersihkan setiap hari (atau lebih sering) oleh karena anak2  yang kecil biasanya buang air sembarang.  Tempatnya harus dibikin dengan benar untuk meminimalisir resiko2 seperti kejedut, goresan dan lecet – atau yang lebih buruk lagi!  Ini berarti banyak sekolah tidak mampu membelinya.

 

A cheaper, yet effective choice, would be to make a play house.  It would need to have multiple rooms, slides, ladders, bridges and other simple devices that don’t cost a lot to make but are durable, but the rooms would not need to be large.  It could have an interesting design and bright colors to stimulate the interest and imagination of the students, with paintings of people, animals and other things on it, too.

>>>Salah satu pilihan yang lebih murah tapi cocok adalah rumah bermain.  Tentu saja, harus ada beberapa ruang, rosotan2, tangga, jembatan dan alat2 lain yang cukup sederhana, kuat dan tidak mahal, dan ruang2nya tidak harus besar.  Bisakah desainnya menarik dan dicat warna-warni yang terang untuk memico ketertarikan dan imaginasi para murid2, dengan gambar2an orang2, binatang2 dan yang lain juga.

 

    Unfortunately, either choice presents the problem of size:  the number of students who can effectively play is limited.

>>>Sayangnya, kedua pilihan bermasalah luasnya: jumlah murid yang dapat bermain bersama terbatas.

 

    But, honestly, a large play area is really what is best, unless the school intends to have a very limited number of students.  If the school you’re looking at has a large rec area, then that is good.  Next,  you should look at how they make use of that area.   The only thing you have to do is make sure that the entire playground is viewable from the position of the teacher supervisors.

>>>Namun, sejujurnya, tempat bermain yang besar adalah pilihan terbaik, kecuali sekolahnya sengaja tidak ingin ada banyak murid.  Bila sekolah yang kamu sedang selidiki punya tempat bermain yang besar, itu bagus.  Kemudian, kamu harus lihat pemakaiannya.  Hanya saja desainnya harus membuat semau daerah terlihat dari posisi guru yang mengawasinya.

 

    You should see at least one large open area for team games and sports, and other areas with playground equipment.   An area should be available for those students who want to sit and talk, be it tables and chairs or a clean spot under some trees.  There should be at least some (semi-)permanent sports equipment for popular sports, too, such as a goal or basket.  Easy access to bathrooms is a must, but kids shouldn’t be able to make use of the water to play.  Ideally, also, the nurse’s station should be nearby in case of accidents.

>>>Setidaknya ada satu tempat terbuka yang luas untuk permainan dan olah raga, dan tempat2 lain dengan ada alat2 bermain.  Sebuah area harus bersedia untuk para murid yang ingin nongkrong, meja2 dan kursi2 atau tempat bersih dibawah pohon2.  Sebaiknya ada alat2 olah raga yang bersifat (semi)permanen untuk olah raga yang populer juga, seperti sebuah gol atau basket.  Kamar mandi harus dekat, tapi air yang ada tidak dapat dipakai untuk bermain.  Secara ideal, juga, ada kamar perawat yang dekat aba bila ada kecelakaan.

 

    In the event of rain, or dangerous weather conditions (e.g.:  extreme cold, lightning storms, hail, icy rain, etc.),  there should be an alternative available for students, such as a library, indoor rec area with individual and 2-to-4-person games and toys, an auditorium, or a physical education gym, or the school staff should be prepared to engage in fun, non-learning-oriented activities.  Students should be given access to the most popular ones on a rotating schedule to make sure that certain students don’t monopolize them.

>>>Ketika terjadi hujan, atau cuaca yang berbahaya (contoh: suhu dingin yang membahayakan, badai petir, hujan es, hujan beres, dll), harus ada kegiatan2 lain yang dapat dimanfaatkan oleh para siswa-siswi, seperti perpustakaan, tempat bermain dalam dengan permainan dan mainan untuk 1 atau beberapa murid, aula, atau ruang olah raga, atau staf sekolah harus mengadakan kegiatan2 yang menyenangkan dan tidak terkait belajar secara langsung.   Murid2 harus diberi akses ke tempat dan kegiatan yang paling disukai secara gonta-ganti supayanya dapat dipakai secara adil oleh semua.

 

    One important area that may be overlooked in city schools is a natural area for children to explore and see nature. Living in the concrete jungle tends to isolate us from the environment that we depend on for life, and such a disconnect can cause us not to appreciate its value or how important it is to take care of it properly. Having an area where students can frolic in the dirt, sand, clay and grass, touch, view and smell the flowers, climb trees and see wild creatures adds an entirely new dimension for some of them, and can bring to life learning about the natural sciences, as well as be used for other purposes, like language acquisition, physical education, and gardening.

>>>Salah satu daerah yang penting yang mungkin terlupakan di sekolah2 di kota adalah tempat alami untuk dijelajahi dan melihat lingkungan hidup. Hidup di kota yang penuh dengan konkrit, semen dan besi cenderung memisahkan kita dari lingkungan hidup yang kita tergantung untuk bertahan hidup, dan pemisahan tersebut dapat menyebabkan kita tidak menghargai nilainya atau betapa pentingnya dikelola dengan benar. Mempunyai tempat dimana para murid dapat bermain di tanah, pasir, tanah liat dan rumput, menyentuh, melihat dan mencium bunga2, memanjat pohon dan melihat binatang liar menambahkan dimensi yang begitu baru untuk beberapa muridnya, dan dapat membuat pembelajaran tentang IPA jadi lebih nyata, dan just dapat dipakai untuk tujuan lain, seperti bahasa, PenJasORKes, dan berkebun.

 

    Older and younger students should be let out to play in separate areas.  This can either be done through having physically separate areas or by letting them out at different times of day.  At what age these divisions should occur depends largely on the dominant culture of the students and the behavior of students, which should be evident  through observation, but the culture and behavior can be modified by the creation of a school culture that fosters constructive interaction between students of different ages, increases tolerance and emotional understanding, and generally produces a more genuinely loving and harmonious environment.  Going strictly by the somewhat arbitrary designations  of major stages in schooling: pre-primary, primary, and secondary (junior/middle and senior) should be separated.  From a formative psychological viewpoint, however, the line is blurred and one might argue that the lines  of division be based on major psychological stages of development instead, or that toddlers be separated from kindergarten to 3rd grade students, who are separated from upper elementary, and so on.

>>>Murid2 yang lebih tua seharusnya dipisah dari yang lebih muda.  Ini dapat dilakukan dengan ada tempat terpisah, atau dengan membiarkan mereka bermain pada waktu yang beda.  Pada umur berapa perpisahan ini harus terjadi sangat tergantung pada budaya dominan para murid dan juga perilakunya, yang akan jelas kalau diobservasikan, namun budaya dan sikap ini dapat dimodifikasi dengan membangun sebuah budaya sekolah yang mendukung interaksi yang membangun diantara murid dengan macam2 umur, meningkatkan toleransi dan pemahaman perasaan, dan secara umum menciptakan sebuah lingkungan yang penuh dengan kasih sayang dan keharmonisan yang tulus.  Secara menurut batasan2 tahap2 sekolah yang tradisional namun kurang tepat: pra-SD, SD, SMP dan SMA harus dipisahkan.  Dari sudut sikologi formatif, namun, garisnya tidak sejelas itu dan dapat diperdebatkan bahwa batasannya lebih tepat kalau didasarkan tahap2 sikologi perkembangan, atau balita harus dipisahkan dari TK sampai dengan kelas 3, yang dipisahkan dari SD atas, dan seterusnya.

 

    An often-overlooked matter of great importance is safety.  It should be evident that the school has taken into consideration the safety needs of the students.  Pre-primary students, especially, need special safety equipment installed for multi-level jungle gyms and some playground equipment,  and if they will be playing on a hard surface supervision by adults should be more than adequate. Multi-level playing gyms should have foam rubber, especially on any sharp edges, and anywhere that a child could fall should either have a safety net or something soft to land on that takes up far more area than you’d think necessary.   Safety nets should be designed so that entanglement that could lead to injury or death is impossible, and anything that would otherwise be considered a wall because of the lack of a safe way to climb down and no retaining wall should be netted, as well.  There have been enough reports in the news of small children falling to their deaths in shopping malls and other buildings because of the lack of safe design that took into consideration the curiosity of children, and the same holds true in most play areas that are truly multi-level.  As students get older, there should be fewer safety issues, but some evidence of safety measures should be evident as recent studies have shown that a concussion often has after-effects that span years or even decades!   Safety equipment for games with hard objects moving at high speeds, such as helmets and gloves for baseball, are a must, and padding for rough sports like American football, boxing and other contact sports should be used.

>>>Salah satu hal yang sering tidak diperhatikan adalah pengamanan.  Seharusnya jelas bagi orang tua bahwa sekolahnya sudah mempertimbangkan dalam desain tempat2 bermain apa yang akan membuatnya amat bagi para murid.   Murid pra-SD, lebih dari yang lain, membutuhkan alat2 pengamanan untuk tempat bermain yang bertingkat dan beberapa macam wahana tempat bermain, dan apabila mereka akan bermain diatas lantai yang keras harus ada pengawasan yang lebih dari cukup.  Tempat bermain bertingkat harus pakai busa, terutama di mana ada ujung2 yang tajam, dan dimanapun anak2 dapat jatuh harus ada jaring pengaman atau sesuatu yang tebal dan lembut yang lebih besar daripada yang diperkirakan.  Jaring pengaman harus didesain agar anak2 tidak menjadi terkusut dengan akibat terluka atau meninggal dunia, dan juga dikasih dimana seharusnya ada dinding, terutama kalau tidak ada cara turun yang aman.  Sudah ada cukup banyak kejadian dimana anak kecil jatuh dan meninggal di mal atau gedung lain karena desainnya tidak aman karena anak2 kecil cendurung  sangat penasaran, dan masalah ini juga nyata di tempat bermain bertingkat.  Seiring dengan waktu, tingkat resiko akan turun, tetapi masih harus ada tindakan pengamanan karena sudah ada cukup banyak bukti bawa gejar otak mengganggu otaknya selama berbulan2 ataupun bertahun2! Alat2 pengamanan untuk permainan dengan barang keras yang gerak sangat cepat, seperti helm dan sarung tangan untuk bisbol, wajib, dan pakaian pengamanan untuk olah raga yang bersifat keras seperti football Amerika, tinju dan olah raga yang bersifat keras wajib dipakai.

 

    If there is a pool, toddlers should be supplied with floatation devices, all edges should be rounded, preferably with foam rubber on the most dangerous ones, and the tiles should be non-slip.  Even for primary students, a pool that doesn’t meet safety standards can be a risk, and the presence of sharp edges is always a bad sign.  Slippery tiles are often used in pools for their  walls, but slippery tiles along the sides of the pool or the bottom are risky because of the increased chance of a student being unable to gain his/her footing, especially a panicking one.  Although grit/sand embedded in the floor’s paint may not feel pleasant to the feet, it is better than drowning, and less expensive than non-slip tiles.  If you see a pool surrounded by slick tiles, and the floor uses slick tiles, that is a dangerous sign, and/or if the edges of steps and the pool itself are not rounded or padded, too, that is a very bad sign; sharp trauma injuries are much more likely to do serious damage than blunt trauma injuries.

>>>Apabila ada kolam renang,  balita wajib dikenakan pelampung, semua tepi/pinggir bulat, lebih baik lagi kalau dikasih busa pada yang paling berbahaya, dan keramiknya wajib anti-selip.  Bahkan untuk murid  SD, kolamnya yang tidak memenuhi standart pengamanan dapat beresiko, dan keberadaan tepi yang tajam selalu tanda buruk.   Keramik yang licin untuk dindingnya, tetapi kalau dipakai untuk lantainya sangat beresiko karena tingkat resiko anak tidak dapat berdiri dengan gampang, terutama ketika ketakutan.   Walaupun pasi di dalam cat lantainya mungkin tidak terasa enak untuk kaki, itu lebih baik daripada tenggelam, dan lebih murah daripada keramik anti-selip.  Jika kamu melihat kolam yang dikelilingi oleh keramik yang licin, dan lantai kolamnya juga memakainya, itu tanda bahayanya; dan/atau apabila pinggir tangga dan tepi kolamnya tidak dibuat bulat atau dikasih busa, juga, itu sangat buruk; tingkat keseriusan luka dari trauma tajam lebih dari trauma tumpul.

 

    Although not required, a dark-colored pool will increase the water temperature and make swimmers feel more comfortable, which may reduce accidents.  But the sides and walking areas around the pool should be lightly colored so that children don’t burn their  feet and, thus, feel the need to run, which could lead to slipping and injuries.  Poolside materials should  be a bit rough but not sharp or painful to walk on, and/or non-slip, too.

>>>Meskipun tidak wajib, kolam yang berwarna  gelap akan membuat suhu airnya lebih hangat dan itu berarti perenang akan terasa lebih nyaman, dengan akibat mungkin mengurangi resiko kecelakaan.  Namun, tepi dan daerah jalan2 disekitar kolamnya seharusnya berwarna muda agar kaki2 anak2 tidak terbakar dan mereka tidak lari, karena itu dapat menimbulkan anak yang selip dan terluka.  Bahan tepi kolam seharusnya sedikit kasar tapi tidak tajam atau menyakitkan kalau diinjak, dan/atau anti-selip juga.

 

    If how to ride a bicycle  is taught, the school should insist that parents provide their  kids with appropriate gear – helmets, and elbow and knee pads.  This will both reduce the child’s likelihood of injury and their  fear, which will speed up learning.  It is probably not feasible for the school to provide such equipment without generous financial support.

>>>Jika ada pelatihan naik sepeda, sekolahnya harus mewajibkan para ortu menyediakan alat2 pengamanan yang cocok – helm dan alat pengaman sendi.  Ini akan mengurangi resiko anakmu terluka dan juga rasa takutnya akan hilang, dan itu akan mempermudahkan proses belajar naik sepeda.  Kemungkinan besar sekolahnya tidak mampu menyediakan alat seperti ini tanpa ada donor uang.

 

    The surface of the play area, except for in areas designed for special activities like skate-boarding, should be flat and well-maintained, with no holes or protruding objects so as to minimize the danger of tripping and falling.  The best choice for play areas is to use materials like rubber, sand or bark chips to deaden falls and minimize serious injuries.   Garden areas, which add a pleasant aspect appearance, should not contain dangerous plants (such as those with poison), and they should not be bordered with anything that a student could be critically hurt by if s/he fell on it, such as stakes, upright bricks, or other sharp or pointy objects.

>>>Permukaan tempat bermain, selain tempat yang dirancang untuk aktifitas khusus seperti papan seluncur, harus rata dan dirawat dengan baik, tanpa ada lubang atau barang yang menonjol agar resiko terpeleset dan jatuh minim.  Pilihannya terbaik untuk dipakai di tempat bermain adalah bahan yang mengurangi dampak anak kejatuhan, seperti karet, pasir atau potongan2 kulit pohon. Kebun yang memperindahkan tempatnya tidak boleh ada tanaman yang berbahaya  (seperti yang beracun), dan tidak boleh ada pinggiran yang dibuat dari bahan yang dapat melukai parah seorang murid ketika jatuh, seperti pancang, batu merah yang berdiri atau obyek lain yang tajam.

 

One great resource that schools should be making use of is their physical education and health teachers – these people generally have a great deal of understanding about safety and rules and can thus play an important role on the school’s committee for said affairs.  They can even be given responsibility for oversight of construction and maintenance of school facilities to ensure quality and safety.

>>>Salah satu sumber daya manusia yang sebaiknya dipergunakan oleh sekolahnya adalah guru JasOrKes – orang2 ini biasanya mempunyai banyak pemahaman tentang pengamanan dan peraturan dan itu berarti mereka dapat berperan penting  dalam panitia tentang hal2 tersebut.  Mereka bahkan dapat diberikan tanggung jawab atas pengawasan pembangunan dan perbaikan fasilitas sekolah untuk memastikan mutu dan pengamanannya.

 

We shouldn’t forget legal concerns that make the acquisition of insurance a necessity.  Unfortunately, sometimes compliance with insurance regulations themselves causes schools to have to remove damaged equipment due to lack of funding, resulting in fewer facilities for students, but this is preferable to serious injury!

>>>Kami tidak boleh lupa hal terkait dengan hukum yang mewajibkan asuransi.  Sayangnya, terkadang kewajiban dari perusahaan asuransi memaksa sekolah2 mencabut alat2 yang rusak karena tidak ada dana untuk memperbaikinya, dengan akibat ada lebih sedikit fasilitas untuk para murid, namun ini lebih bagus daripada luka2 serius!

 

Of great importance is the presence of facilities for the care of injured and sick people.  You should find out if the teachers are trained in first aid, where first aid supplies are stored and how close they are to areas where accidents are most likely to happen (e.g.: shop classroom, playground, gymasium), whether there is an on-site clinic and if there is a full-time nurse stationed there, and what the SOP are to deal with sick and injured individuals.  Do they have a back-up plan in case of trouble?  How will they handle true emergencies that cannot be dealt with at school?  Do they have a doctor on call, is there a nearby doctor’s office, clinic or hospital?  At the very least, first-aid boxes should be stationed strategically around the school near high-risk areas, and teachers and staff should have been trained in how to use them.  Finally, who is the point of contact in the case of an emergency, especially if the health specialist is away?

>>>Sangatlah penting adalah keberadaan perlengkapan untuk perawatan orang yang terluka dan sakit.  Kamu sebaiknya cari tahu apakah para guru telah terlatih dalam pemakaian P3K, dimana P3K disimpan dan berapa dekat dengan tempat2 yang tingkat resiko kecelakaan tinggi (contoh: ruang kerajinan, tempat bermain, ruang olah raga), apakah ada klinik di kampus dan apakah ada perawat terlatih yang salalu siap membantu, dan prosedur standart apa yang ada untuk keperawatan yang sakit dan terluka.  Apakah ada rencana cadangan kalau ada situasi gawat?  Apa rencananya kalau memang ada situasi darurat yang tidak dapat ditangani di sekolahnya?  Apakah ada dokter yang dapat dipanggil, atau akankah mereka ke klinik, kantor dokter atau rumah sakit?  Setidaknya, ada kotak P3K harus ditempatkan secara strategis di rawan kecelakaan, dan para staf dan guru harus terlatih. Terakhir, siapa yang harus dihubungkan dalam keadaan darurat, terutama kalau ahli medisnya sedang tidak ada?

 

Rules and supervision of the students are an important part of a recreation area.  This is especially true of small children who haven’t been socialized or taught by their families, and older students in high-risk areas.  An initial period of adjustment is to be expected, and guidance from a caring person will help to make the transition easier – both in the rules and in the possible uses of unfamiliar equipment.

>>>Peraturan dan pengawasan murid2 adalah bagian penting dari tempat bermain.  Ini sangat nyata dengan anak2 kecil yang belum diajarkan peraturan2nya oleh keluarga, apalagi murid yang lebih gede dari daerah kumuh.  Sebuah waktu awal untuk penyesuaian harus terantisipasikan, dan bimbingan dari seseorang yang kasih sayang akan membantu membuat transisinya lebih gampang – baik peraturan maupun pemakaian alat2 yang belum diketahui.

 

Small children need rules to help them learn how to interact appropriately, but they also need gentle guidance from caring adults.  There are many children who come from environments in which they have learned appropriate behavior, but there are also many who come from environments where there are problems, or where they are mollycoddled and/or abusive behavior is either tolerated or found amusing.  These children, especially,  will need the loving help of adults so that they will be accepted by other children and be able to integrate.  This may even be true of older students, if they are coming from schools with inferior  integration programs and a lack of the development of character, social and emotional skills.  If you believe your child may come from a background that is less supportive, too supportive, or even abusive, or if you have noticed that your child has trouble socializing or often gets into trouble for one reason or another, you should take care to ascertain that the school has a great integration and support program.

>>>Anak2 kecil membutuhkan peraturan untuk membantu mereka belajar cara interaksi yang cocok, tapi mereka juga butuh bimbingan yang baik dari dewasa yang peduli.  Ada banyak anak2 yang berasal dari lingkungan yang membimbing mereka dengan benar, tapi juga ada banyak  yang dari lingkungan yang bermasalah, atau dimana mereka dimanjakan dan/atau dimana perlakuan kejam olehnya diterima atau dianggap lucu.  Anak2 seperti ini, lebih dari yang lain,  akan membutuhkan bantuan yang penuh kasih sayang dari dewasa agar mereka dapat disukai dan diterima oleh anak2 lain.  Ini juga benar untuk murid2 yang lebih dewasa, bila mereka dari sekolah dengan program integrasi yang tidak bagus dan ketidakadaan pengembangan watak dan kemampuan sosial dan perasaan.  Jika kamu percaya bahwa anakmu berasal dari lingkungan yang kurang mendukung, memanjakan atau keras, ataupun kalau kamu lihat bahwa anakmu susah bersosialisasi atau sering dalam masalah dengan alasan apa2, kamu dianjurkan untuk memastikan sekolah yang kamu selidiki punya program hebat integrasi dan bimbingan.

 

There are reports of schools dropping all playground rules with great success.  However, this doesn’t take into consideration the facts that (1) the rules have been so fully impressed on the older students that (2) they have become part of their social interactions and are thus (3) passed on daily to the younger and even new students.  I suspect that there will be times when problems will occur in schools without play area rules, but appropriately applied reinforcement should help.  Especially if the school doesn’t have rules, you should be sure to go there during school hours to observe the behavior of the students while playing.  If you see a shortage of teachers, teachers who are too busy socializing to notice what’s going on, or frequent problems, those are bad signs.

>>>Ada laporan2 tentang sekolah yang telah menghapus semua peraturan dengan sukses yang tidak dapat dibayangkan.  Namun, ini tidak mempertimbangkan fakta bahwa (1) peraturan2nya sudah didorong sampai jadi kebiasaan murid yang lebih tua sampai (2) peraturannya menjadi dari interaksi sosial mereka  dan demikian (3) diwariskan kepada murid2 yang muda dan baru.  Saya menyangka bahwa akan ada titik bermasalah di sekolah tanpa peraturan, namun pengawasan dan pembimbingan yang cocok dapat menyelesaikannya.  Terutam di sekolah tanpa peraturan, kamu harus ke sana pada jam sekolah untuk mengawasi perilaku murid2nya saat bermain.  Jika ada kekurangan guru2, gurunya terlalu sibuk bersosialisasi sampai tidak memperhatikan apa yang terjadi di tempat main, atau sering ada masalah, itu semua tanda buruk.

 

In either situation – with or without explicit rules – there should be supervision by adults in sufficient numbers to minimize problems, like bullying  and fighting, not to mention outside interference by criminals.  It is a sad fact that abduction of children for the worldwide sex and slave markets is on the rise, as is the abuse of children by infantophiles, pedophiles and other deviants, so school staff must be vigilant and, preferably, there should be a gated fence around the property.

>>>Dalam kedua keadaan – dengan atau tanpa peraturan – harus ada pengawasan oleh dewasa2 dalam jumlah yang cukup agar masalah dapat diminimalisirkan, seperti penggertakan oleh bully dan perkelahian, apalagi gangguan dari luar oleh penjahat.  Sayang sekali, penculikan anak2 untuk pasar gelap budak seks dan budak sedang meningkat, juga dengan penyiksaan, dan pencabulan remaja, anak bahkan balita oleh orang2 yang menyimpang, jadi staf sekolah harus was2 dan, lebih baik lagi, harus ada pagar dengan pintu gerbang yang mengelilingi tempat bermain dan sekolahnya.

 

Rules should be written so that the students can easily understand them or using pictures, and should be constructively oriented (i.e.: “Play nicely”, “Ask for what you want to use”, and “Use your words”).  Periodic sessions in which the rules are talked about and demonstrated through role-playing are a good idea.  A colorful, permanent display of the rules can serve as a reminder for students.

>>>Peraturan harus ditulis dengan cara yang gampang dipahami murid atau dengan ada gambar2, dan seharusnya bersifat baik (maksudnya: “Bermain dengan baik,” Minta izin kalau ingin memakai sesuatu,” dan “Pakailah kata2”).  Sesi yang terkadang diadakan untuk membicarakan dan mempertunjukkan peraturan melalui berperan adalah gagasan yang bagus.   Pameran peraturan yang permanen dan berwarna menarik dapat mengingatkan para murid2nya.

 

So, when you are looking at a school’s recreation area, you should see a recreation area that is large, safe, well-planned and has some equipment; rules should be clear and supervision performed by adequate numbers of adults.  Also, don’t forget to observe cleanliness!

>>>Jadi, ketika kamu melihat tempat bermain sekolah, seharusnya terlihat besar, aman, direncanakan dengan baik dan ada beberapa alat2 olah raga; peraturan harus jelas dan pengawasan dilakukan oleh dewasa dalam jumlah yang cukup.  Juga, jangan lupa  memperhatikan kebersihan!

Advertisements